Postingan

Kamu Bagian dari Masyarakat Aristokrat apa Egaliter Tri?

Teringat dengan percakapan salah satu keluarga yang saat itu sedang mendiskusikan tentang korelasi pendidikan dan manajemen karir. Pendidikan, menurutnya, adalah media yang digunakan untuk mencapai cita-cita dasar. Misalkan saja gelar sarjana, diploma atau SMA sekalipun. Setelahnya, bekerja dan segera pikirkan untuk menikah. Perkara melanjutkan pendidikan, banda (harta), dan kecukupan lainnya biar terealisasi kemudian, atau bahkan menurutnya semua Tuhan yang mengatur (nerimo ing pandum). Lebih jauh, kerangka berpikir tentang manajemen karir tak ubahnya seperti tolak ukur yang telah monoton dan penuh kepastian; PNS. Ini barangkali representasi pemikiran masyarakat pedesaan/ pinggiran kota dengan sedikit kesempatan untuk menilik sejauh mana pendidikan dapat memberikan kesempatan dengan mengantarkan karir seseorang pada tataran tertentu. Menurutnya, PNS adalah gambaran ideal seorang pamong dengan balutan seragam dan penghormatan yang diperoleh dari masyarakat. Sapaan akrab seperti “sugen...

CITA-CITA

Saya tersenyum kalau mendengar kata tersebut, karena jujur cita – cita itu adalah sesuatu yang misterius. Kadang ketika nonton TV saya ingin menjadi Superhero , kadang ingin menjadi dokter, jadi tentara, polisi, insinyur, sarjana dan bla..bla....bla. Tuh, rumit gak ? Hayo.... kamu pasti sama, berapa banyak cita-cita yang kamu miliki sewaktu kecil ? Kok tidak ada yang bertanya , kenapa seperti itu ? Jawabanya adalah karena ketika anak-anak, kita memakai Imajinasi dalam memilih cita-cita. Sedangkan ketika kita beranjak dewasa, dalam menentukan cita-cita kita sudah mulai dapat berpikir rasional. Tapi, kalau ada yang sudah SMP atau SMA masih memiliki cita-cita ingin menjadi Superman, Batman, Ksatria Baja Hitam, Iron Man, de_ el_ el..........saya sarankan mending cepet-cepet deh konsultasi ke Psikolog. Cita-cita , Apa sih itu cita-cita, kayaknya rumit amat... Cita-cita adalah gambaran diri ideal dimasa yang akan datang. Menjadi orang yang berhasil, sukses, kaya, te...

Forum Leuven; Forum Diskusi Sejarah Bangsa

Nani Nurrachman-Sutojo Maria Hartiningsih Kompas Minggu, 14 Maret 2004. PERSONA “LEGA rasanya…,” demikian komentar Nani Indraratnawati Nurrachman-Soetojo, ketika akhirnya Mahkamah Konstitusi memutuskan, Pasal 60 huruf (g) UU Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD dinyatakan tidak berlaku. Artinya, anggota eks Partai Komunis Indonesia boleh menjadi calon anggota legislatif, meskipun karena keputusan ini tidak berlaku mundur, pasal itu baru berlaku untuk pemilu tahun 2009.” SAYA bersyukur karena mereka mendapatkan kembali hak sebagai warga negara setelah begitu lama diperlakukan secara tidak adil,” lanjut Nani dengan nada riang dan ringan, ketika ditemui suatu pagi, di rumahnya, di Jakarta. Seandainya Nani tak punya hubungan apa pun dengan peristiwa G30S, komentar itu bisa ditanggapi sebagai hal biasa. Nani, yang di kalangan akademisi dikenal sebagai Dr Nani Nurrachman (53), seorang psikolog, adalah putri Mayor Jenderal (...